Gereja tidak hidup dari gagasan saja. Kristus memberi kata, air, roti, cawan; khotbah dan Meja; pengakuan dan tubuh yang berkumpul dalam waktu serta tempat. Inilah bentuk keselamatan yang sesuai bagi ciptaan bertubuh.
Baptisan mempertemukan firman Injil dengan air di bawah perintah dan janji Kristus. Baptisan adalah tindakan yang ditetapkan untuk memasukkan orang ke dalam umat-Nya dan mengambil bagian dalam kematian serta kehidupan-Nya yang bangkit. Orang itu menerima karunia yang tidak bermula dari kehendaknya sendiri. Mereka yang dibaptis kemudian diajar untuk menjalani kehidupan yang diterima (Matius 28:18--20; Roma 6:1--14).
Dalam Perjamuan Tuhan, Roh mengaruniakan persekutuan nyata dalam tubuh dan darah Kristus yang diberikan sekali untuk selamanya melalui makan dan minum yang ditetapkan. Paulus menyebut cawan dan roti sebagai persekutuan serta mempersatukan yang banyak menjadi satu tubuh (1 Korintus 10:16--17). Peringatan mengarahkan perhatian kepada pemberi yang hidup, yang janji-Nya menentukan arti perjamuan ini. Kecukupan-Nya, bukan kemampuan kita menghasilkan perasaan, memberi orang beriman yang lemah alasan untuk menerima.
Ini pernyataan positif tentang tindakan Kristus. Penerimaan lahiriah tidak menjadi manfaat keselamatan yang otomatis, dan seluruh cara kehadiran-Nya belum terselesaikan. Iman, pertobatan, dan pemeliharaan tubuh termasuk dalam penerimaan yang benar. Anggota Korintus yang lapar menyingkap pertentangan antara menerima karunia kudus dan mempermalukan orang yang berbagi karunia itu.
Ajarkan Keyakinan Gereja yang Sebenarnya
Keluarga yang bertanya tentang baptisan perlu mengetahui apakah gereja ini membaptis bayi, pengakuan apa yang diwajibkan, dan bagaimana gereja memahami anugerah, iman, serta air. Pengunjung yang mendekati Meja perlu mengetahui siapa yang diundang dan mengapa. Kebaikan mencakup jawaban sebelum orang itu harus menebak.
Orang Kristen berbeda pendapat tentang penerima, cara, dan daya guna baptisan, serta kehadiran Kristus dan hubungan Perjamuan dengan pengorbanan-Nya yang cukup. Pengajaran Katolik dan Ortodoks mengakui tubuh dan darah yang sejati; pengajaran Lutheran menegaskan kehadiran dan pembagiannya yang nyata; pengajaran Reformed menegaskan santapan rohani yang nyata melalui iman. Pengakuan Baptis menggambarkan peringatan simbolis yang taat dan penantian. Ada perbedaan penting di dalam maupun di antara tradisi. Gereja perlu mengajarkan pandangannya secara tepat dan menggambarkan yang lain secara adil.
Pandangan yang diikuti di sini menegaskan karunia Kristus yang disampaikan melalui Roh sambil membiarkan seluruh caranya belum terselesaikan. Pandangan peringatan yang menegaskan bahwa Roh sungguh memberikan Kristus melalui mengingat juga berbagi klaim inti itu. Penjelasan apa pun tidak boleh menjadikan sakramen milik pemimpin, tuntutan perasaan kuat, atau jalan pintas untuk menghindari kasih.
Baptisan dan Meja Melawan Gereja yang Hanya Berisi Konten
Gereja modern cenderung mengirim konten. Khotbah menjadi pusat karena dapat ditayangkan, dipotong, dibagikan, dinilai, dikonsumsi. Pengajaran penting, tetapi gereja bukan panggung kuliah. Sakramen mengganggu konsumerisme: air tidak dapat diunduh; roti dan cawan memerlukan tubuh berkumpul. Keselamatan bukan gagasan melayang di atas ciptaan.
Pengampunan umum perlu dirasakan sebagai belas kasih; rasa memiliki perlu diterima umat yang terlihat; khotbah kesatuan memerlukan satu roti, cawan, Meja, dan tubuh dalam Kristus.
Baptisan, Meja, dan Kehidupan Bersama
Menganggapnya serius menarik gereja menuju kebenaran. Hal kudus dapat dipelintir: orang terluka dipaksa tampak dekat seolah membuktikan pendamaian; bahasa baptisan atau anggota dipakai membungkam; pengecualian dari Meja menjadi kendali pemimpin, bukan disiplin pastoral berat dalam nama Kristus.
Janji Allah kepada manusia bertubuh harus benar. Meja bukan properti damai palsu; baptisan bukan cap merek. Sakramen milik Kristus dan tidak membuat ketidaknyataan terasa kudus.
Pertanyaan bagi Praktik Baptisan dan Meja
- Apakah baptisan mengajar persatuan dengan Kristus, rasa memiliki publik, kematian hidup lama, dan masuk umat terlihat?
- Apakah persiapan mencakup pertobatan, iman, doktrin, tubuh, Gereja, panggilan, atau hanya urusan teknis?
- Apakah Perjamuan mengajar penerimaan sebelum prestasi?
- Apakah Meja menghubungkan pengampunan dengan pendamaian tanpa memaksa kedekatan palsu?
- Apakah anggota memahami sifatnya yang penuh sukacita, serius, komunal, dan bertubuh?
- Apakah anak, petobat baru, dan anggota terluka diajar dengan bahasa yang dapat diterima?
- Apakah keyakinan denominasi dijelaskan tanpa membuat karikatur orang Kristen lain?
Jawaban akan berbeda, tetapi setiap gereja harus tahu apa yang dibentuk praktiknya. Yang jarang, tergesa, tanpa penjelasan, sentimental, atau terpisah tetap mengajar bahwa janji Allah kepada manusia bertubuh hanya pinggiran.
Janji bagi yang Lemah
Baptisan dan Perjamuan terutama penuh belas kasih bagi yang lemah. Yang lelah mungkin tidak mampu membuat perasaan kuat; yang berduka tidak tahu doa; yang ragu sulit memegang doktrin; yang malu bertanya apakah belas kasih tersedia. Air, roti, cawan tidak bergantung pada intensitas yang dibuat; semuanya diberikan. Bukan otomatis atau santai, tetapi karunia berbentuk janji.
Orang yang Maju dengan Tangan Kosong
Seorang pria di belakang hampir membiarkan barisan Perjamuan lewat. Rabu ia membentak putrinya; Kamis terlalu lama menggulir layar karena keheningan lebih buruk; doanya dua kalimat dan tatapan lantai. Khotbah benar terasa seperti memar. Saat mendengar "Mari, terimalah pemberian Allah," ia memegang bangku dan mengamati barisan.
Perempuan tua maju dengan tongkat; remaja bermata basah; ayah menggendong anak; pria lajang yang biasanya keras kini diam; janda membuka dua tangan. Tidak seorang pun datang penuh.
Itulah belas kasih Meja: kebutuhan terlihat dalam tangan, mata, tubuh berjalan, tertatih, menggendong, gemetar, menanti. Gereja menerima sebagai pengemis yang diberi makan.
Ia tidak merasa hangat atas perintah. Ia menerima: "Tubuh Kristus, diberikan bagimu." Ia menerima cawan dan berbisik, "Kasihanilah." Kristus tidak menunggunya mengesankan sebelum memberi belas kasih.
Cawan tidak memaklumi kekasarannya. Ia masih harus meminta maaf, mengubah kebiasaan telepon, bicara kepada teman, atau meminta bantuan. Meja bukan jalan menghindari ketaatan, tetapi jalan kembali kepada belas kasih. Datanglah dengan tangan kosong, terimalah, dan masuk minggu sebagai orang yang diberi makan janji Kristus.
Satu Meja, Banyak Sejarah
Setiap Perjamuan menghimpun sejarah berbeda: sukacita, malu, lelah merawat, pernikahan tegang, kepercayaan yang belum pulih. Anak mengamati; tamu menilai apakah meja makanan pribadi atau karunia kudus yang dijaga kasih. Meja tidak menghapus sejarah; ia menghimpunnya kepada Kristus.
Tubuh tidak pernah tiba dalam satu keadaan: kuat, lemah, bertobat, belajar bertobat, berdamai, atau perlu memulai pemulihan. Sebagian perlu dorongan, peringatan, atau menunggu dan berbicara dengan pelayan pastoral.
Gereja mengajar tanpa panik: Meja bersukacita karena janji dan belas kasih; serius karena tubuh bukan properti; komunal karena bukan konsumsi pribadi; bertubuh karena roti dan cawan menjangkau tangan, bibir, perut, ingatan, kerinduan; berpengharapan karena menunjuk kerajaan.
Tanpa pengajaran, Meja menjadi gangguan bulanan, momen pribadi, lencana denominasi, atau suasana. Dengan sabar, ia membentuk: yang cemas datang kosong; yang sombong menerima anugerah; yang terluka tidak memikul damai palsu; yang kesepian menemukan tubuh; pemimpin belajar Meja milik Kristus; anak melihat benda ciptaan menjadi tanda belas kasih luar biasa.
Setiap gereja harus bertanya: apakah praktik membesarkan Kristus atau lembaga? Mengajar pertobatan atau perasaan samar? Menolong memahami tubuh atau membiarkan penghinaan? Membuka harapan bagi yang lemah atau menghargai yang tampak kuat? Meja milik Tuhan yang disalibkan dan bangkit, maka ia membuat gereja lebih benar.
Minggu Sesudah Meja
Meja mengutus belas kasih ke dalam minggu. Jika sesudah menerima bersama, perkataan, uang, konflik, keramahan, dan perhatian tidak berubah, apa yang diterima? Perjamuan bukan kuasa ajaib dan tidak membentuk tanpa iman, pertobatan, ketaatan. Ia melatih Gereja menjadi umat penerima.
Anggota mungkin perlu menelepon dan memperbaiki; pemimpin berhenti memakai relawan; keluarga memberi tempat bagi yang sepi; gereja bertanya mengapa anggota berguna tetapi tidak dikenal; orang yang diampuni melepaskan balas dendam tanpa pura-pura percaya kembali.
Meja mengubah imajinasi: sesama bukan terutama penghalang, musuh tidak di luar penghakiman dan belas kasih, tubuh tidak dapat dibuang, lapar bukan tuhan, peran bukan identitas, malu bukan akhir, uang bukan milik terdalam, waktu tidak aman oleh kendali. Kristus memberi diri, maka saya berhenti pura-pura harus menopang diri.
Karena Kristus menerima kita dalam belas kasih, kita akan bergerak menuju satu tindakan kasih yang benar.
Tindakan itu mungkin pengakuan, kunjungan, pengampunan, pemberian, meminta bantuan, istirahat, berkata benar, menolak gosip, atau menghormati yang diabaikan. Meja bukan pekerjaan rumah, melainkan makanan yang mengajar tubuh hidup sebagai penerima janji bersama.
- Apakah baptisan dan Perjamuan terasa pusat, tergesa, hiasan, pribadi, atau tanpa penjelasan?
- Bagaimana air, roti, cawan mengajar bahwa Kristus menyelamatkan manusia bertubuh?
- Di mana pengajaran perlu diperjelas agar yang lemah menerima janji, bukan tekanan?
Riset terkait
Bandingkan bab ini dengan dokumen sumber atau pelajari rujukan Alkitabnya.
Chapter comments